Tentang Saya

Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Sop Buntut Cut Meutia

Saya ke sini, karena penasaran dengan saran teman saya. Katanya ada sop buntut yang enak dekat dengan Mesjid Cut Meutia. Setelah googling, jam buka hanya siang, jarang sampai sore karena cepat habis, waduh. 

Jadilah pas jam rehat siang saat rapat di Hotel Akmani Jl KH Wahid Hasyim saya menyempatkan ke sini. Pakai bajai pp biar cepat, walaupun jarak cuma sekitar 900m. Bela-belain :)
Tampilan warungnya memanjang, dengan banyak pintu. Ramai saat jam makan siang, bila penuh harus nunggu pengunjung lain selesai makan ... sabaaar.


Nah kan, nama warungnya Sop Buntut Semoga (Hj. Nurjanah), di Menteng kecil No 4/5. Lebih dikenal Sop Buntut Cut Meutia karena letaknya dekat dengan Mesjid Cut Meutia, jadi lebih mudah dicari. Katanya sudah ada sejak tahun 1970-an.


Pesanan saya datang, begini kelengkapannya : 1 mangkuk sop buntut, 3 buah perkedel kentang, dan nasi putih. Ada pilihan menu lain, tapi tak terbayang kenyangnya bila makan sendirian. 


Ciri khas sop buntut di sini, daging buntutnya kemerahan ! Bukan karena pewarna, tapi karena lamanya proses masak, berapa jam ya sampai empuk begitu. Kuah kaldu bening, agak sedikit asam, dengan potongan sayur kol. Berbeda dengan sop buntut lain yang pernah saya coba, sop buntut ini tidak terlalu banyak rempah, kaldunya malah terasa ringan dan pas dinikmati di siang hari. Saya tidak berani menambah sambal, takut mengubah rasa asli kaldu sopnya. 


Begitu digigit, daging buntut langsung rontok dari tulangnya, empuk & lembut banget :) 
Beneran, saya pasti nyesal kalo tidak menyempatkan ke sini (alesan). 
Bayar 45 ribu untuk 1 porsi + teh tawar, kembali ke tempat rapat pake bajai (lagi). Perut kenyang, hati senang, hehehe .... 

Selasa, 24 November 2015

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Nasi goreng kambing ini membuat saya penasaran, hehe ... Makanan yang paling jarang saya beli mungkin nasi goreng, karena saya lebih suka membuatnya sendiri. Katanya sudah ada sejak tahun 1958, jadi ya tidak salah kan harus dicoba kelezatannya. Dari Hotel Sofyan di Jl. Cut Meutia setelah magrib, saya iseng jalan kaki, melewati Mesjid Cut Meutia dan Mesjid Cut Nyak Dhien jl Johar, melalui jl KH Wahid Hasyim lalu masuk ke Jl Jaksa (sekalian ingin lihat suasana Jl. Jaksa), lalu belok ke jl Kebon Sirih. Total 1,52 km dengan suasana sedikit gerimis :) 



Saya menemukannya terlihat suasana ramai di situ, di mulut jalan kecil. 


Pesan sebentar, 1 menit kemudian sudah terhidang di meja. Iya cepat banget, ga pake lama karena nasgornya dibuat masal, lihat tuh wajannya. Satu wajan beraga kg nasi ya ?


Ini tampilan piringnya : 1 porsi nasi goreng kambing dengan acar.


Dari suapan pertama, lidah langsung dimanjakan oleh nasi ggoreng ini, nasinya tidak keras, aneka rempah (kapulaga, sereh, kunyit, lada, dan bumbu lain) yang terasa kuat berpadu dengan lembutnya minyak samin. Acar menjadi penetral gurihnya potongan daging kambing dan emping. Beneran maknyuus eaaa ...

Tuh semua pengunjung menikmati nasi goreng dan menu lainnya. Ada sate dan aneka minuman.


Bayar 36 ribu untuk 1 porsi nasi goreng dan 1 botol air mineral.

Jumat, 23 Oktober 2015

Gudeg Yu Djum

Ke sini bukan pilihan sendiri, travel yang mengantar ke sini untuk makan jumat siang. Yang istimewa, lokasinya di Jl. Kaliurang Km 4,5. Saya pernah kos dekat situ Sodara-sodara, tahun 1996 silam, saat menemani kakak kelas penelitian di Lab PAU UGM. Suasana dekat kampus, masih terlihat, dan semakin padat oleh kost-an. Ingat baheula. Dikit-dikit nostalgia
Ga pake acara memilih menu, semua pesanan sama untuk peserta. Ini tampilannya :


Gudeg (jenis) kering, krecek pedas, telor manis dan paha ayam yang (masih) bersambung dengan cekernya. Untuk penyuka gudeg ini enak banget, untuk yang sudah lupa masakan manis khas Jawa, perlu ekstra niat dan tenaga lebih untuk menghabiskannya. Sepulang tur di Merapi, dan jam makan siang sedikit terlewat, saya jadi lapar berat jadinya ya hantam saja tanpa malu-malu, teman di depan meja saya cuma makan nasinya doang, mungkin ga kuat dengan manisnya. 
Daripada belum tentu menemukan masakan yang sama di tempat lain (ogah rugi, alesan), saya mengunyahnya sambil membayangkan makan mentimun dan lalap-lalapan
biar segeran. Tulang paha dan ceker akhirnya terpisah, cuma dagingnya saja bertemu kembali di perut saya :D . Pake sendok garpu juga perjuangan loh (baca : sedikit alot). Diakhiri dengan minum teh yang (sangat manis), cukup membuat saya tambah manis



Kamis, 22 Oktober 2015

Bakmi Pele Yogyakarta

Malam terakhir di Yogyakarta, saya penasaran juga dengan Bakmi Pele ini. Terletak di pojok Alun-alun Utara Yogyakarta, di depan SD Keputran. Dari Hotel Inna Garuda ke situ, jalan kaki, niat pisan ya hampir 3  km sodara-sodara, sekalian mengantar teman belanja oleh-oleh, saya cuma ingin menikmati makanan. Sampai di situ jam 21.15 malam, masih banyak pengunjung yang menunggu pesanan dengan tetap sabar. Saya memutuskan beli mie nyemek, pilihan lain yang ada di situ bakmi goreng dan kuah, ada mie kuning dan bihun, ada juga magelangan (itu loh istilah nasgor campur mie). Minuman, mau beli wedang ronde kehabisan, jadilah wedang jahe saja. Menunggu pesanan diiringi lagu-lagu lama dari kelompok musik tak jauh dari situ, beneran berasa di Yogya, salah satu hal yang membuat Yogya terasa ngangeni. 

Saat pesanan tiba, itu setelah saya duduk manis 30 menitan, porsinya di piring benar-benar pas. Tak berlebihan, juga tidak membuat ingin tambah pesanan karena terlalu sedikit, hehe ... bisi rewog. Campuran mie dengan suiran ayam kampung, sedikit kuah yang bercampur telur bebek, maknyuus, pedas karena saya minta dibuat pedas saat memasaknya. Sepertinya saya pasti nyesal kalo ga ke situ :D 

Tampilan foto seadanya, dari HP cadangan yang sudah hampir kehabisan batre. Lumayan ya untuk mengabadikan saya pernah ke situ ... 



Untuk pesanan sepiring mie nyemek dan segelas wedang jahe, tidak sampai 30 ribu, masih ada kembalian tuh. 

Pulang ke hotel, malas jalan kaki lagi, lagipula kasian teman saya belanjaannya lumayan berat. Jadilah naik becak motor, 35 ribu.  



Selasa, 20 Oktober 2015

Kopi Joss

Di kawasan Tugu Yogyakarta, banyak ditemui penjual kopi ini. Yang paling enak yang mana, ga sempat nyari. Katanya yg dekat stasiun Tugu. Penasaran dan ga dapat yg direkomendasikan, akhirnya nyoba di  Kawasan Tugu Yogyakarta. Kopi tubruk diberi tambahan arang yang masih membara, rasanya pahit-pahit gimanaaaa gitu ... 




Ini Kawasan Tugu, mau difoto seperti dorong tugu, tapinya gak pas ... *nyengir. 



Senin, 19 Oktober 2015

Gudeg Pawon Yogyakarta

Sebelum berangkat ke DIY Oktober lalu, teman SMA saya memberi tahu untuk mencoba Gudeg Pawon ini. Sepulang mengunjuni De Mata dan De Arca di XT square saya
 bertanya pada Pak Satpam, daerah Janturan itu jauh tidak. Kata Pak Satpam, agak dekat dari XT square, bisa naik becak. Jadilah saya naik becak keluar dari dua museum kekinian di Yogya tersebut. Ongkos naik becak dari XT Square ke Janturan 20 ribu, Abang becak bilang di situ rame, tapi ko sepi ya. Ternyata jl Janturan no 36 sudah terlewati hingga balik lagi, ada plang nama tapi belum ada tanda warung buka, saat itu jam baru menunjukkan jam 20.30. Mau kembali ke hotel tanggung, penasaran. Akhirnya saya dekati rumah dengan plang ini walaupun menunggu perlu waktu 90an menit lagi : 


Setelah perut "makan angin" dan mata mulai mengantuk, dan belum mandi sore, kemringetan, inilah penampakan saya :D 



Bapak Pembuat minuman, menyuruh saya ke depan pintu, Ibu antrian no 1 katanya. Ada seorang bapak yg sudah ada di situ sebenarnya, tapi beliau datang saat saya tadi di becak terlewat. Bapak tersebut orang Jakarta, katanya kemarin malam sebelumnya sudah datang ke situ, tapi kehabisan, jadinya rela datang lagi karena putrinya minta makan di situ. Besok pagi sudah harus pulang ke Jakarta katanya. Halaaaaaah, membuat saya makin penasaran dengan gudeg ini. Si Bapak nanya saya, sendirian aja Neng ke sini ? Beranian yaa. Saya bilang, Yogya mah malam juga suasananya tidak menakutkan. Makin mendekati jam buka, antrian pembeli sudah mengular di halaman.

Jam 22.00 teng, tepat waktu, pintu pawon (dapur) dibuka, masuklah saya ke pawon ini. tampak dapur model jadul begini, asap dari kayu di perapian eh hawu (basa Sunda) membuat aroma dapur makin terasa. Begitu masuk, saya dilayani oleh seorang Ibu, ada 3 orang di situ, pembeli lain antri berdiri dengan tertib di belakang saya. 


Saya menilih nasi gudeg, krecek dan dada ayam. Hadeuuh bela-belain makan malam banget karena gudeg ini, mudah-mudahan perut tidak protes ya. Ini penampakan piring saya :




Untuk minuman, saya memilih Wedang Uwuh (minuman berwarna nge-pink dari rempah-rempah). Makanpun dimulai, eh ternyata itu gudeg biasa aja rasanya di lidah, bedanya lebih terasa segar karena baru matang, yang istimewa ya karena makan di pawon itu (catat). Eh bedanya lagi, kreceknya tidak bau f******n seperti di Bandung. Saya berlama-lama mengunyah, melihat orang lain yang juga makan di situ, sampai baju berbau asap. Selesai makan, bayar makanan dan minuman 30 ribu. Mau pulang ke hotel, terpaksa memesan taksi daripada ojek karena ga bawa jaket, keluarlah ongkos 60 ribu dari Janturan ke Malioboro. Ini sepertinya ongkos termahal untuk makan (becak + taksi) dan waktu terlama (nunggu 1,5 jam). Hahahaha, dasar, saking penasaran, tos ah. 


Minggu, 18 Oktober 2015

Artemy Italian Gelato (es krim) Yogyakarta

Diajak teman-teman ke kedai es krim (gelato) Artemy ini awalnya saya ga minat, soalnya ingin segera pergi untuk menemui teman tapi HPnya ko jadi lost kontak. Berhubung cuma sepelemparan batu dari Hotel Inna Garuda Jl. Malioboro dan udara masih terasa panas, untuk menghilangkan penat di perjalanan sepanjang  siang 18 oktober di Kereta Api dari Bandung ke Yogyakarta, jadilah saya ikut ke kedai Artemy di sebelah utara Malioboro Mall.  
Tampilan etalase es krim nya lumayan menggugah selera, sampai bingung memilih dan menanyakan ke penjaganya satu persatu varian rasa yang ditawarkan, untungnya mereka sabar menjawab. 


Jadilah saya memilih satu jenis dalam wadah cone, dimakan terasa manis dan lembut. Kalo ga salah saya pesan yang vanila apa cookies. Namanya niat nguliner, dicoba saja ya, meskipun untuk rasa dan teksturnya malah saya jadi kangen es krim favorit saya di Bandung, kenapa juga itu kedai es krim pindahnya ga ketahuan kemana, huhuhu ... Lah, bukannya menikmati yang di hadapan malah ingat yang lama :( 



Eh 1 scoop es krim dalam cone seharga 16.500. Bisa pesan beberapa scoops sekaligus, kalo muat di perut atau pesan rame-rame :)

Alamat :
Jl. Perwakilan No. 5 Yogyakarta
jam Buka : 10.00 - 22.00